BERITA TASIKMALAYA, RANCAH POST – Urusan laki-laki penyuka sesama jenis di Tasikmalaya ternyata bukan hal yang aneh lagi dan bukan lagi urusan pribadi tapi sudah terang-terangan dipamerkan di muka publik tanpa malu-malu. Begitu juga dengan perempuan penyuka sesama jenis alias lesbian, mereka pun kian mendapat tempat. Para lesbian yang ada di Tasikmalaya ini bahkan punya tempat untuk memperoleh penghasilan, tempat karaoke salah satunya. Tak sedikit dari lesbian ini adalah seorang PL (pemandu lagu) di tempat karaoke tersebut.
Sebagaimana dihimpun initasik.com, salah seorang pemandu lagu yang bekerja di salah satu tempat karaoke di Tasikmalaya, Jawa Barat, katakanlah Duri, mengaku sebagai seorang lesbian. Tak lupa, ia pun berbagi informasi seputar sisi gelap dan dunia kelamnya. Duri mengungkapkan, tak hanya dirinya yang menjadi lesbian, banyak dari teman-temannya yang berusia belasan tahun juga menjadi seorang lesbian, bahkan ada lesbian yang masih
usia sekolah menengah pertama (SMP). Di tempat karaoke itulah mereka mencari uang dan bertransaksi syahwat.
“Meskipun harus berhubungan layaknya suami istri, itu hanya untuk mencari uang saja, tidak dinikmati. Misalnya di ruang karaoke di grepe-grepe, teu nafsu, biasa saja tidak ada reaksi apa-apa, yang penting dapat uang,” kata Duri.
Masih kata Duri, dengan banyaknya tempat berkumpul seperti tempat karaoke dan cafe-cafe, interaksi lebih terbuka dan rahasia yang tadinya hanya diketahui di kamar saja kini menyebar ke tempat-tempat nongkrong seperti itu. Untuk berkomunikasi dengan rekan-rekan sesama lesbian, ungkap Duri, mereka punya panggilan tersendiri. Pem, digunakan untuk memanggil perempuan. Buci, untuk memanggil perempuan dengan rambut pendek. Andro, digunakan untuk memanggil perempuan berambut panjang. Bagong, untuk lelaki normal dan ACDC bagi lesbian yang juga menyukai pria.
Informasi serupa juga disampaikan Imel yang juga seorang pemandu lagu. Menurutnya, para lesbian ini ada yang berpenampilan layaknya seorang laki-laki, ada yang cuma suka perempuan saja dan ada pula yang suka kedua-duanya baik laki-laki maupun perempuan. Menjalin hubungan dengan sesama perempuan menurut mereka lantaran mendapatkan perhatian yang lebih. “Setahu saya, hampir semua PL itu adalah lesbian. Teman saya saja di HP-nya banyak foto-foto mesra dengan teman perempuannya, kalau saya nggak,” ucapnya.
Cerita Dewiq berbeda lagi, ia adalah seorang lesbian yang berumah tangga dan tentu saja memiliki seorang suami. Namun itu semua hanya dalihnya agar tidak ada yang curiga. Hasrat adalah alasan utama ia bermain belakang dengan seorang perempuan. “Suami saya sudah tua, jadi sudah tidak ada hasrat lagi bila berhubungan” ujarnya.
Di Tasikmalaya, lanjut Dewiq, ada komunitas lesbian yang dengan mudah bisa berkomunikasi satu sama lain. Berbeda dengan dahulu, sekarang mereka lebih berani unjuk gigi dan terang-terangan mengakui bahwa mereka adalah lesbian.